Arit Santoso's

Portfolio
Bingung saya harus memulai dari apa dan mana. Kalau dihitung-hitung, hampir setahun saya tidak menulis untuk blog yang satu ini. Saking sibuknya? Bukan, melainkan saking malasnya (jangan ditiru kalau belum ahli).

Kalau sudah keluar kata ‘malas’, memang sudah tidak perlu ada alasan lain untuk menguatkannya karena memang itu sudah sangat kuat untuk menjadi alasan. Dan karenanya, mungkin kemampuan menulis saya menurun drastis. Memangnya dulu bagus? Jelas lah, tidak. Nilai saja sendiri tulisan ini.

Terakhir menulis di blog ini adalah ketika saya mengikuti Liga Blogger Indonesia 2015. Itu menjadi musim kedua saya ikut serta. Sayangnya saya tidak ikut sampai selesai. Alasannya? Apalagi kalau bukan karena malas. Tidak perlu dijelaskan alasan lainnya kan meski sebenarnya ada.

gambar disalin dari ligabloggerindonesia

Liga Blogger Indonesia atau disingkat dengan LBI ini pun kembali akan digelar. Didahului dengan babak kualifikasi karena tanpa dinyana-nyana pesertanya membludak. Maka dari itulah tulisan ini dibuat karena saya pun termasuk salah satu pesertanya.

Kenapa saya kembali ikut padahal suka malas menulis? Pilih jawaban jujur atau jawaban keren? - Baiknya jawaban yang keren dulu lah. Alasan saya kembali ikut LBI adalah karena saya mau melawan kemalasan menulis yang sudah mengakar dalam dalam diri saya. Banyak orang bilang cara terampuh mengalahkan rasa malas diri dengan melawannya sendiri. Walau banyak orang menyemangati atau memberi motivasi kalau dirinya sendiri tidak berani melawan maka malas itu tidak akan lenyap. Dengan adanya kewajiban menulis tiap pekannya, setiap peserta mau tidak mau harus menulis. Malas pun akhirnya harus dilawan. Setuju?

Padahal, alasan itu juga gak jauh beda dengan alasan sewaktu dulu buat tulisan pada awal-awal LBI 2015. Ujung-ujungnya mentok ke kata ‘malas’ lagi. Keren apanya coba? Biar lah. Lantas, bagaimana dengan jawaban jujurnya?

Ok, jadi begini. Sejujurnya saya ikut LBI lagi adalah untuk tetap mencantumkan nama Purworejo dalam perhelatan blogger yang istimewa ini. Coba saja ditelisik, apakah ada blogger asal Purworejo yang selalu antusias dan ikut LBI? Cuma saya lah (begaya sekali-sekali boleh kan). LBI akan jadi tidak lengkap kalau saya tidak diikutkan. Tinggal jangan bosan-bosan ingatkan saya untuk menulis karena malasnya sering kambuh.

Yang pasti saya ikut bukan karena mengejar hadiahnya. Atau bahkan mencari jodoh seperti yang sudah ditulis salah satu peserta. Atau alasan lainnya. Tapi kalau kemudian saya layak dapat hadiah ya jangan sampai gak dikasih. Dan kalau ada yang kemudian tertarik sama saya, jangan malu-malu. Saya ini masih sendiri kok.
Ketika bulan Maulud (bulan dalam kalender Islam) tiba, ketika itu pula dalam beberapa hari jalan-jalan di Purworejo ramai dengan pawai. Seperti yang sedang terjadi beberapa hari ini. Pawai sebagai bagian dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini sudah menjadi tradisi hingga kini. Masyarakat Purworejo menyebutnya dengan istilah arak-arakan.

Arak-arakan merupakan pawai untuk mengarak para bocah yang katam membaca Al-Quran. Bisa dibilang, tradisi ini diadakan sebagai hadiah untuk mereka karena telah selesai mengaji Al-Quran. Mereka akan diarak dengan dinaikkan becak, bendi, dan kuda yang menjadi kendaraan wajib bagi mereka. Selain itu, pasukan drumb band juga kadang diikutsertakan untuk menambah kemeriahan. Tentu tidak ketinggalan pula Gagar Mayang (bunga dari kertas yang dirangkai pada lidi) dan tabuhan terbang (rebana) dengan lantunan shalawat nabi.

Saya sudah lama tidak melihatnya. Merantau terlalu lama di kota orang membuat saya kehilangan kesempatan untuk menyaksikan langsung. Paling-paling saya hanya dapat melihat foto-foto yang diunggah di media sosial. Tapi, kurang lengkap lah rasanya. Dan sekarang saya sudah kembali ke kampung halaman, makanya saya selalu menontonnya meski harus berpanas-panasan. 

Seperti beberapa hari yang lalu. Siang-siang ketika matahari sedang terik-teriknya, saya sudah berada di salah satu warung kopi tempat saya nongkrong (kapan-kapan saya akan coba cerita tentang ini). Kebetulan tempatnya persis di pinggir jalan yang akan dilewati arak-arakan. Tak berselang lama, beberapa orang tua dan banyak anak kecil mulai berdatangan. Mereka juga hendak melihatnya.

Meski sederhana, arak-arakan tetap diburu oleh warga. Setiap ada arak-arakan, persimpangan jalan yang dilewati akan dipenuhi oleh mereka. Kenapa di persimpangan? Karena di sana tempatnya para kuda dan drumb band menampilkan atraksi. Atraksi inilah yang menjadi daya tarik bagi mereka. Selain itu, para warga juga ingin mengambil gagar mayang yang dihiasi dengan balon, jajanan, bahkan selembar uang seribuan atau dua ribuan untuk anak-anak mereka. 

Bagaimana dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di daerah asal kalian? Apakah serupa atau ada tradisi sendiri?

Cedera kaki adalah momok bagi para olahragawan. Karena, mereka harus menghentikan profesinya untuk sementara waktu, bahkan selamanya. Tapi yang namanya olahraga, cedera memang merupakan resikonya. Itulah sekarang yang sedang saya rasakan. Meski saya bukan atlet, tapi untuk sementara waktu saya tidak bisa bersepak bola, tidak pula bisa berlari-lari sambil cuci mata di kala sore hari. Sedih rasanya.

Entah memang sedang sial, sekalinya bermain sepak bola di tahun yang baru ini, saya malah langsung cedera. Yang pasti ini sudah takdir dari-Nya.

Jadi ceritanya begini. Kemarin Selasa saat saya bertanding sepak bola, kaki saya kena tendang pemain lawan dari belakang. Tergeletak lah saya karena dengkul kiri rasanya kaku, sakit kalau digerakkan. Lalu saya memberi sinyal kepada teman-teman bahwa saya minta diganti karena tidak bisa melanjutkan permainan. Padahal, waktu itu pertandingan baru berlangsung beberapa menit. Kurang puaslah saya. Tapi mau bagaimana lagi, kaki sudah tidak bisa dibuat lari. Dengan hati kecewa, saya berjalan keluar lapangan sambil terpincang-pincang dibantu teman.

Bicara soal cedera kaki, ini bukan kali pertamanya bagi saya. Sejak saya suka sepak bola (baca Saya dan Sepak Bola), cedera kaki sudah sering menghampiri.Yang keseleo lah, yang terkilir lah, yang lecet lah (ini termasuk cedera atau bukan sih?). Beruntungnya kaki saya tidak pernah sampai patah, dan semoga saya tidak akan mengalaminya. Jangan sampai!

Seringnya, bagian kaki saya yang kena cedera adalah pergelangan kaki. Biasanya disebabkan karena menendang kaki lawan main (jadi ini main sepak bola atau apa?), kepeleset, kaki masuk ke lubang di lapangan yang kering, sampai karena tertindih tubuh lawan main atau juga kawan endiri. Dan kalau sudah begitu, kaki kemudian membengkak. Pijat adalah obat yang paling mujarab. Pernah dipijat karena kaki terkilir? Sakit rasanya. Maka dari itu, saya tidak begitu suka dipijit, sakit dan lebih banyak karena membuat saya geli.

Tapi itu dulu. Beda dengan akhir-akhir ini. Beberapa tahun belakangan ini, bagian lutut saya lah yang sering didera cedera. Saya masih ingat saat bulan puasa tahun 2012, dengkul kanan saya mendarat dengan hebat di tanah lapangan yang keras ketika sedang bermain sepak bola. Lagi-lagi karena sepak bola. Geserlah itu sendi dengkul, sakit rasanya tidak perlu kalian tanya. Perlahan-lahan mulai membesar dan akhirnya membengkak. Selang dua tahun, giliran dengkul kiri yang membengkak. Meski tidak separah seperti sebelumnya, tetap saja sakit rasanya.Tidak percaya? Coba saja sendiri biar tahu rasa.

Hanya saja, saya tetapbersyukur ketika sedang cedera. Saya jadi punya alasan untuk bermalas-malasan setiap harinya. Alasan macam apa coba? :))
Previous PostOlder Posts Home